Advertisements

Review Star Wars : The Force Awakens

review star wars

Saya melewatkan begitu saja hype Star Wars ketika saya masih kecil. Pada masa itu, di tahun 90-an, hampir semua majalah dan tabloid langganan saya membahas Star Wars. Bahkan produsen snack-snack legendaries kala itu selalu melampirkan bonus mainan ataupun pernak-pernik Star Wars untuk menambah pikat produk mereka. Momen euphoria Star Wars memang tidak boleh dilewatkan begitu saja karena pamornya yang tengah meroket dapat memikat siapa saja, orang tua maupun anak-anak. Kini, ketika hype tersebut muncul dengan dirilisnya Star Wars : The Force Awakens, saya tidak akan melewatkannya begitu saja.

Saya bukan penggemar Star Wars, saya tidak menonton semua episode, bahkan saya baru mengetahui istilah Machete Order baru-baru ini. Namun, agar tidak merasa ‘ketinggalan cerita’ ketika menonton The Force Awakens, saya menyempatkan menonton episode VI : Return of The Jedi yang kebetulan saat itu ditayangkan salah satu tv swasta.  Berangkat dari Return of The Jedi, akhirnya saya mulai memahami sedikit tentang Star Wars.

The Force Awakens dibuka dengan scene yang sangat apik, perkenalan terhadap karakter Kylo Ren. Visualisasi Kylo Ren sangat ciamik ditambah dengan efek vokalnya ketika mengenakan helm khusus itu membuat sisi kanak-kanak dalam diri saya menjerit kegirangan. Keren luar biasa. Saya memberikan acungan jempol terhadap efek vocal Kylo Ren ketika dia mengenakan helmnya. Terdengar berat dan sangat nyata, seperti ia tengah bercakap di sebelah telinga saya.  Desain kostum Stormtrooper pun jauh lebih meyakinkan dibandingkan dengan film-film sebelumnya, dan mitos tentang stormtrooper yang selalu meleset ketika menembak dipatahkan dalam film ini. Ada adegan dimana seorang stormtrooper duel dengan karakter Finn (yang dulunya juga seorang stormtrooper) menggunakan  semacam double stick yang dialiri listrik, badass!. Dari TFA (The Force Awakens) saya baru tahu kalau Stormtrooper itu tdak hanya laki-laki, tapi juga perempuan.

Cerita TFA tidaklah rumit, bila saya boleh mengganti sub titlenya, saya lebih memilih Star Wars : Finding Luke dibandingkan The Force Awakens. Alasan mengapa dipilih the force awaken malah tidak begitu kuat mengingat jalan cerita utama adalah menemukan Luke Skywalker yang menghilang (lebih tepatnya kabur). Bagi saya yang bukan penggemar Star Wars, banyak surprise yang saya temukan ketika menonton. Seperti siapa jati diri Kylo Ren, tewasnya Han Solo, Millenium Falcon, perang antara pasukan resistance dengan First Order, bahkan hidupnya kembali R2D2. Semuanya membuat adrenaline saya naik seketika, excited at the moment. Chemistry  antar karakter juga terbangun dengan baik, antara Finn dengan Poe, Finn dengan Rey, Rey dengan Solo, Solo dengan Leia, bahkan antara Kylo Ren dengan Solo sekalipun. JJ Abrams melakukan tugasnya dengan baik. TFA bukannya tanpa cela dari segi cerita, seperti misalnya pengulangan ide cerita yang kentara dengan episode sebelumnya dan eksplorasi karakter yang tidak maksimal, namun semua itu tertutupi dengan baik selama film diputar. Tidak lupa dengan Trio The Raid yang hadir di film ini. Trio The Raid hanya mendapatkan porsi sedikit dalam film namun poin pentingnya adalah mereka sempat berinteraksi dengan Han Solo meskipun kemudian tewas di tangan makhluk raksasa bertentakel tangkapan Han Solo.

TFA saya beri nilai 8,5/10 untuk keseluruhan, baik visual efek, cerita, acting pemain, maupun score yang digunakan. Ending film ini juga menjanjikan cerita yang tidak kalah seru untuk sekuel berikutnya. Sebagai tambahan, Rotten Tomatoes memberikan ratting 8,3/10 dengan 94% fresh dan IMDb memberikan ratting 8,7/10. Film ini sangat layak untuk kalian saksikan terutama bagi yang bukan penggemar Star Wars. Selamat Menonton!.

Advertisements