Advertisements

Upacara Melasti dan Kaitannya dengan Penataan Ruang Wilayah Provinsi Bali

Upacara melasti adalah upacara menyucikan bhuana agung dan bhuana alit yang disimbolkan dalam bentuk pratima-pratima pura yang dilakukan pada kawasan pantai, danau, campuhan, dan mata air yang disucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Upacara Melasti yang banyak dikenal kini merupakan Upacara Melasti sebagai rangkaian pelaksanaan hari raya Nyepi dan dilakukan mulai seminggu sebelum Nyepi hingga sehari sebelum Hari Pengrupukan. Upacara Melasti juga dilakukan sebagai rangkaian upacara tertentu di masing-masing pura di Bali, tidak hanya sebatas sebagai rangkaian pelaksanaan hari raya Nyepi.

Keunikan dari Upacara Melasti ini adalah pada pelaksanaannya yaitu dilakukan dengan melakukan iring-iringan dari Pura Desa menuju kawasan pelaksanaan Melasti. Bagi Desa Adat yang memiliki pantai maka iring-iringan ini dilakukan dengan berjalan kaki. Sedangkan bagi desa adat yang tidak memiliki pantai dan atau lokasinya jauh dari pantai lokasi Melasti, iring-iringan dapat dilakukan dengan berkendara. Jalur yang dipilih untuk menuju pantai lokasi Melasti pun tidak boleh sembarangan, harus berdasarkan pentujuk pemuka agama setempat dan merupakan jalur yang telah turun temurun digunakan sebagai jalur melasti.

 

upacara melasti
Sumber gambar: www.trekearth.com/gallery/Asia/Indonesia/Nusa_Tenggara/Bali/Sanur/photo354266.htm

 

Dalam tata ruang tradisional Bali, pelaksanaan upacara melasti memiliki kaitan secara lokasional. Prosesi upacara melasti yang membutuhkan air sebagai media penyucian menyebabkan lokasi upacara berada pada ruang dengan fungsi profan. Penentuan lokasi profane menggunakan konsep Nyegara-Gunung, Hulu-Teben, Utara-Selatan maupun Timur-Barat. Wilayah yang berfungsi sebagai ruang suci adalah wilayah yang mengarah pada gunung (dalam hal ini adalah Gunung Agung) atau wilayah dimana matahari terbit (wilayah sebelah timur).

Sedangkan wilayah yang berfungsi sebagai ruang profan adalah wilayah yang mengarah pada laut atau wilayah dimana matahari tenggelam. Lokasi pelaksanaan upacara melasti merupakan lokasi yang disakralkan dan tidak setiap pantai, danau, campuhan atau mata air dapat digunakan sebagai lokasi melasti. Penentuan lokasi melasti merupakan hasil kesepakatan masyarakat Desa Adat atas petunjuk dari pemuka agama setempat.

Upacara Melasti dan Kawasan Suci

Dalam tata ruang wilayah Provinsi Bali, lokasi dilaksanakannya Upacara Melasti ini diatur sebagai Kawasan Suci yang merupakan bagian dari Kawasan Lindung Provinsi Bali. Kawasan Suci adalah kawasan yang disucikan oleh umat Hindu seperti kawasan gunung, perbukitan, danau, mata air, campuhan, laut, dan pantai. Penentuan lokasi Kawasan Suci untuk masing-masing kabupaten/kota di Provinsi Bali diatur dalam RTRW masing-masing Kabupaten/Kota, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali hanya mengatur mengenai kriteria penetapan Kawasan Suci dan pengaturannya secara umum. Sebagai contoh, dalam Perda Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang RTRW Provinsi Bali Tahun 2009-2029 disebutkan :

Pasal 44 Ayat 2 :

Kawasan suci, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, mencakup:
a.  kawasan suci gunung;
b.  kawasan suci danau;
c.   kawasan suci campuhan;
d.  kawasan suci pantai;
e.  kawasan suci laut; dan
f.   kawasan suci mata air.

Pasal 44 Ayat 3 :

Sebaran lokasi kawasan suci gunung sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, mencakup kawasan dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) derajat dari lereng kaki gunung menuju ke puncak gunung.

Pasal 44 Ayat 4 :

Sebaran lokasi kawasan suci danau sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, mencakup Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan, dan Danau Tamblingan.

Pasal 44 Ayat 5 :

Sebaran lokasi kawasan suci campuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, mencakup seluruh pertemuan aliran dua buah sungai di Bali.

Pasal 44 Ayat 6 :

Sebaran lokasi kawasan suci pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d, mencakup tempat-tempat di pantai yang dimanfaatkan untuk upacara melasti di seluruh pantai Provinsi Bali.

Pasal 44 Ayat 7 :

Sebaran lokasi kawasan suci laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e, mencakup kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu di Bali.

Pasal 44 Ayat 8 :

Sebaran lokasi kawasan suci mata air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f, mencakup tempat-tempat mata air yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu di Bali.

Sedangkan kriteria kawasan suci diatur dalam pasal 50 ayat 1, dengan bunyi pasal sebagai berikut :

Kawasan suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf a, ditetapkan dengan kriteria:

  1. kawasan suci gunung merupakan kawasan gunung dengan kemiringan sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) derajat sampai ke puncak;
  2. kawasan suci danau disetarakan dengan kawasan resapan air;
  3. kawasan suci campuhan disetarakan dengan sempadan sungai selebar 50 meter yang memiliki potensi banjir sedang;
  4. kawasan suci pantai disetarakan dengan kawasan sempadan pantai;
  5. Kawasan suci laut disetarakan dengan kawasan perairan laut yang difungsikan untuk tempat melangsungkan upacara keagamaan bagi umat Hindu; dan
  6. kawasan suci sekitar mata air disetarakan dengan kawasan sempadan sekitar mata air.

Lalu apa saja kegiatan yang dapat dilakukan di dalam Kawasan Suci?. RTRW Provinsi Bali menyebutkan dalam pasal 108 ayat 1 mengenai arahan peraturan zonasi kawasan suci yang bunyinya sebagai berikut :

Arahan peraturan zonasi kawasan suci sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) huruf a, mencakup:
a.      kawasan suci sebagai kawasan konservasi; dan
b.      pelarangan semua jenis kegiatan dan/atau usaha yang dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup dan nilai-nilai kesucian.

Rencana Tata Ruang Wilayah sejatinya memberikan perlindungan secara hukum pada kawasan suci dan kawasan tempat suci sebagai wilayah konservasi. Tujuannya adalah memudahkan dalam melakukan pengawasan terhadap pelanggaran pemanfaatan kedua kawasan tersebut serta menentukan konsekwensi hukum atas pelanggaran tersebut. Konsep tata ruang tradisional Bali merupakan konsep yang implemetasinya menggunakan rasa (sikut awak) sehingga dalam konteks riil dan konteks wilayah yang luas (desa adat dan wilayah administrasi di atasnya), sangat sulit untuk diukur maupun dideliniasi.

Upacara Melasti memiliki kaitan sebagai bagian dari aktivitas dalam Kawasan Suci yang merupakan kawasan konservasi dalam penataan ruang wilayah Provinsi Bali. Upacara Melasti memberikan nilai sakral pada Kawasan Suci, dan sebaliknya Kawasan Suci menjadi media paling penting dalam pelaksanaan upacara Melasti. Menjaga kelestarian Kawasan Suci tidak hanya berarti menjaga eksistensi Upacara Melasti sebagai sebuah nilai budaya, juga eksistensi lingkungan fisik kawasan suci sebagai kawasan perlindungan ekosistem yang ada di dalamnya

Advertisements

Komentar