Advertisements

Menyelami Kedalaman Gunung Es Synthpop

Beberapa hari yang lalu, Otong (@midiahn, frontman KOiL) men-tweet sebuah diagram berformat iceberg theory dengan konten nama-nama musisi yang mengusung musik synthpop dan variannya. Iceberg theory, yang mulanya dirancang oleh Ernest Hemingway, memang kerap dijadikan sebagai pengantar informasi sederhana atau sekadar lelucon untuk berbagai disiplin seperti bisnis, internet, maupun musik – dengan maksud membagi antara nama-nama populer pada bagian puncak gunung es (yang terlihat) dan nama-nama baru atau yang kurang populer berurutan ke bawah dari mulai badan hingga dasar gunung es (yang tidak terlihat, kecuali kita menyelami perairan sekitarnya).

The Synthpop Iceberg
The Synthpop Iceberg

 

Otong sendiri bisa dibilang sebagai seorang influencer di Twitter, katakanlah, pakar, untuk perkara synthpop dan industrial. Lumrahnya, ia seperti para expert lainnya, semisal Arian13 di bidang metal dan Ucok di ranah hip-hop, terkadang kita bisa menemukan rekomendasi mereka untuk musik-musik (yang baik) dari domain masing-masing.

Saya melihat logo Apoptygma Berzerk di kaos yang kerap dipakai oleh Otong beberapa tahun silam, mencari musiknya, untuk lantas merasakan kecocokan baik dari nada-nada yang catchy maupun tema-tema yang filosofis (Orwellian, Hegelian, dsb). Tahun lalu, ia merekomendasikan Capitalism TM, album termutakhir yang apik dari trio futurepop/EBM asal Jerman, Rotersand. Dua nama terakhir ada di dalam diagram ‘gunung es synthpop’ di atas.

Kita bisa mendapatkan rekomendasi musik dari siapa saja dan merasakan kecocokan ketika mencoba mendengarkannya. Namun untuk urusan musik yang tidak begitu digemari di sini [synthpop], ada baiknya dimulai dengan memperoleh rekomendasi dari mereka yang betul-betul mendalaminya, bukan?

Goldfrapp dan CHVRCHES?

Walaupun sebenarnya diagram seperti ini tidak bisa benar-benar diyakini kredibilitasnya. Terlebih jika mengacu pada ‘dalamnya’ letak nama-nama populer seperti Goldfrapp dan CHVRCHES. Meski ada kemungkinan diagram ini dibuat ketika keduanya belum sepopuler saat ini. Namun setidaknya, lebih dari cukup untuk membantu kita ‘menyelami’ suatu genre/subgenre musik, terutama yang bukan dari arus utama. Ia bertindak seperti peta, yang secara kasar, memberi pemahaman ‘posisi’ dari para pengusung musiknya. Entah itu siapa pemilik musik yang akan kita dengarkan ketika kita ingin mengetahui akar (pionir) musik tersebut yang biasanya terletak pada bagian atas gunung es, maupun siapa para penggubah musik itu yang lebih obscure, meskipun kita mungkin perlu menaikkan kadar brightness gambarnya untuk melihat nama-nama di bagian terdalam. Bahkan, semakin dalam menyelaminya, semakin besar kemungkinan kita untuk bisa memperbarui peta suatu genre musik.

Rekomendasi yang baik, selain bisa datang dari mana/siapa saja, memang yang simpel tapi jitu. Dan sepertinya, demi kuantitas musik berkualitas, kita memerlukan lebih banyak diagram (lebih baik lagi infografis) serupa dari berbagai macam subgenre.

Advertisements

Komentar