Advertisements

Selamat Datang di Pasar Pura Majelangu, Pasar Khusus Hari Raya Nyepi

Selamat datang di Majelangu, selamat berbelanja.

 

Ketika saya googling nama Majelangu, yang muncul dalam daftar teratas pencarian Google adalah Pasar Majelangu di Kelurahan Kuta yang  hanya buka satu hari saja setelah Hari Raya Nyepi (hari Ngembak Geni). Sangat unik karena hanya buka 1 hari saja selama setahun. Namun tahukah anda, selain Pasar Majelangu di Kuta, ada pasar Majelangu lain yang juga hanya dibuka setahun sekali dan masih berkaitan dengan hari raya Nyepi?. Pasar Majelangu ini lokasinya di jaba (halaman luar) Pura Majelangu, Banjar Gerenceng, Kota Denpasar.

Pasar Majelangu ini, dibandingkan dengan Pasar Majelangu di Kuta, memiliki perbedaan (bahkan lebih unik) karena hanya buka pada saat Nyepi. Saya tidak tahu ada atau tidak pasar lainnya yang buka tepat ketika Nyepi selain pasar ini. Pura Majelangu terletak di Jalan Sutomo Denpasar, sebelah utara Puri Gerenceng. Bila selama ini kita mengenal hari raya Nyepi sebagai hari dimana semua aktivitas di Bali ditiadakan karena pelaksanaan Catur Brata Penyepian yaitu tidak menghidupkan api, tidak bepergian, tidak bekerja dan tidak bersenang-senang, maka hal yang sebaliknya justru terjadi di Pasar  Majelangu. Masyarakat sekitar pasar datang, dengan berjalan kaki dan berbelanja seperti yang terjadi pada pasar umumnya. Seolah-olah hari itu hari bukan hari raya Nyepi.

 

 IMG_20150321_133045Gambar : Suasana di Depan Pintu Masuk Pasar  Majelangu

Sumber : Dokumen Pribadi

 

Pasar  Majelangu tidak menjual kebutuhan sehari-hari, hanya menjual panganan seperti rujak buah dan Tipat Cantok, bahkan nasi campur. Penjual di dalam pasar pun kini hanya tersisa satu. Dahulu penjual di Pasar  Majelangu cukup banyak, seperti pasar pada umumnya, hingga tumpah ke Jalan Sutomo. Pembelinya pun berasal dari luar desa. Namun kini yang tersisa hanya satu pedagang. Tidak diketahui pasti mengapa pedagang di pasar ini tinggal seorang saja. Penjualnya ini adalah pengempon (mereka yg merawat dan menjaga) Pura Majelangu sendiri. Mereka yang datang ke pasar lebih kepada menikmati suasana yang berbeda serta dapat bercengkrama dengan masyarakat lainnya ditemani oleh panganan ringan tadi. Suasana kekeluargaan akan kental terasa di dalam Pasar Pura Majelangu ini, namun tetap dengan menjaga suasana agar tidak mengganggu masyarakat lainnya yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian. Bila mau datang ke Pasar Pura Majelangu harus berpakaian adat ringan mengingat kita akan memasuki areal pura yang disucikan serta meminta ijin pecalang setempat yang tengah berjaga. Mereka yang datang untuk berbelanja di Pura  Majelangu tidak hanya dari warga Banjar Gerenceng saja, namun juga banjar lainnya disekitar Banjar Gerenceng. Banjar adalah unit sosial yang terdiri dari kumpulan keluarga. Kumpulan banjar kemudian membentuk desa adat atau desa pekaraman.

 

IMG_20150321_132952  IMG_20150321_132920 IMG_20150321_132943 IMG_20150321_132932

Gambar : Suasana di Dalam Pasar  Majelangu

Sumber : dokumen pribadi

 

Pasar Majelangu hadir bukan tanpa alasan. Berdasarkan penuturan teman saya yang tinggal tidak jauh dari lokasi, diceritakan secara turun temurun dari mulut ke mulut, Pasar  Majelangu ini hadir sebagai syarat agar masyarakat setempat terhindar dari wabah penyakit (grubug). Apabila kegiatan ini dilarang atau ditiadakan maka diyakini akan terjadi wabah penyakit. Tidak diketahui tepatnya kapan pasar ini mulai ada, wabah penyakit apa yang menyerang warga serta wilayah mana yang menjadi korban wabah penyakit tersebut. Apa yang tersaji di dalam cerita tersebut merupakan sebuah nilai budaya pemanis kehadiran Pasar  Majelangu.

Bali sendiri adalah keanekaragaman. Setiap desa adat memiliki tradisi unik dalam menjalankan ritual keagamaannya. Menganut konsep Desa Mawacara (otonomi desa), setiap desa adat memiliki hak untuk menjalankan tradisi sesuai dengan keyakinan yang dianut masyarakatnya. Apa yang terjadi di Pasar  Majelangu ini adalah bagian dari keanekaragaman budaya Bali yang harus tetap dilestarikan. Keunikan dari masing-masing tradisi akan menciptakan nilai komparatif yang selalu bisa dibanggakan dan diceritakan pada generasi berikutnya. Selama tradisi-tradisi ini masih ada, niscaya Bali akan selalu ada sebagai sebuah keunikan dunia.

Advertisements

Komentar