Advertisements

Review Transformers : Age Of Extinction (2014)

Review Transformers Age Of Extinction

Review Transformers Age Of Extinction

Review Transformers Age Of Extinction Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di benak saya ketika menonton film ini. Ada yang bilang untuk bisa suka dengan sebuah karya seni audio visual seperti musik, lagu ataupun film, menit-menit awal merupakan waktu krusial bagi kita untuk menentukannya. Selama 3 menit pertama saya masih bertanya-tanya ke mana cerita film ini akan di bawa oleh Michael Bay. Ada beberapa scene yang sengaja dibuat tanggung agar kita tetap penasaran dengan jalan cerita berikutnya.  Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhenti muncul hingga 7 menit berikutnya, waktu-waktu krusial bagi saya untuk bisa bertahan menonton sebuah film.  Namun sayangnya, hingga film ini berakhir ada banyak hal-hal janggal yang saya temukan dan bahkan cenderung absurd.

Saya pada dasarnya lebih mencari sensasi special efek dibandingkan cerita untuk film Transformers. Film ini adalah film kesukaan saya semenjak SD. Alasannya sederhana karena saya suka robot-robot yang bisa bertransformasi ke dalam bentuk kendaraan. Namun ketika saya selesai menonton Transformers  : Age Of Extinction , gairah saya sepertinya sudah habis untuk menonton film ini (apabila dibuat sekuelnya lagi). Saya sangat terganggu dengan cerita yang dibangun oleh Michael Bay dan Ehren Kruger. Ketiadaan karakter Sam dan Mikaila yang selama 3 serial terakhir menjadi pusat cerita tidak mendapat ruang sama sekali dalam cerita sekuel ketiga ini. Bagaimana mungkin karakter-karakter ini dihilangkan begitu saja tanpa ada penjelasan sama sekali, padahal cerita sekuel ketiga ini bukan reboot tapi kelanjutan dari cerita sekuel kedua, Dark Of The Moon.

Review Transformers Age Of Extinction

Hal lain yang  mengganggu bagi saya adalah peran Decepticon yang sangat minim dalam cerita di sekuel kali ini. Peran antagonis dimainkan oleh karakter Lock Down yang justru membuat saya bingung ia berada di pihak mana. Lock Down hanya jadi pemburu transformers terutama Autobots yang masih tersisa di bumi setelah perang besar di Chicago (Sekuel kedua). Sedangkan Decepticon hanya memiliki peran kecil melalui karakter Galvatron dan Stinger  yang ironisnya justru diciptakan oleh manusia. Decepticon bagi saya adalah bangsa fasis yang sangat mengagungkan teknologi  Cybertron dan ketika mendapati cerita bahwa Galvatron sebagai tubuh baru Megatron adalah hasil rekayasa manusia, bagi saya itu sudah berada di luar pakem Transformers. Terlebih lagi bagaimana mungkin manusia bisa menciptakan transformers tanpa ALL SPARK?. Coba kita kilas balik ke sekuel pertama Revenge Of The Fallen, yang mengisahkan The Fallen bangkit kembali untuk “memanen”  Matahari  sebagai sumber energi pasukan transformersnya (klan Decepticon) setelah The Cube dihancurkan pada film pertama. Kemudian bagaimana salah satu karakter Decepticon harus dikorbankan agar All Sparknya bisa digunakan untuk membangkitkan kembali Megatron . Dari cerita itu kita bisa tahu bahwa Transformers perlu energy All Spark untuk hidup.

Karakter-karakter manusia yang diperankan oleh Mark Wahlberg (Cade Yeager), Nicola Peltz (Tessa Yeager) dan Jack Reynor (Shane Dyson) seperti dipaksakan untuk hadir di dalam cerita. Cade Yeager hanya kebetulan saja bertemu dan memperbaiki Optimus Prime yang kemudian berlanjut menjadi sekutu. Bahkan ada karakter yang bagi saya sangat mubazir dihadirkan yaitu Lucas Flannery. Karakter ini tidak memiliki posisi yang kuat dalam cerita dan akhirnya dibunuh begitu saja di tengah film. Kemudian Shane Dyson yang datang sekonyong-konyongnya untuk membantu Tessa Yeager dan Cade Yeager juga masih sangat janggal buat saya.

Keanehan dan kejanggalan di atas belum mencakup kehadiran karakter Dinobots, cukup sudah spoiler yang bisa saya ceritakan di sini. Meskipun sangat banyak keanehan dan kejanggalan dalam cerita yang ditawarkan dalam film Tranformers : Age Of Extinction ini,  ada beberapa credit point yang bagi saya menjadi obat penghibur. Pertama sudah barang tentu kehadiran robot-robot baru terutama Dinobots yang kemudian menjadi sekutu Optimus Prime dan kawan-kawan. Kedua adalah scoring yang digunakan kali ini meskipun tidak melibatkan Linkin Park, sangat memuaskan telinga saya. Pada sekuel ke empat ini Michael Bay melibatkan karya Band Imagine Dragon sebagai  scoring film.

Mengutip dari tulisan Agung Suherman (di sini)

“Scoring film menjadi departemen yang sangat penting dalam dunia perfilman. Ketika musik mulai bergabung dengan visual bergerak, maka pembangunan atmospheric semakin kuat dan membentuk banyak pengalaman ketika menontonnya.”

Maka scoring film transformer kali ini sudah bisa membuat saya eargasm seperti scoring Pacific Rim karya Ramin Djawadi.  Membuat saya sedikit melupakan segala pertanyaan-pertanyaan yang muncul akibat cerita absurd yang baru saja saya tonton.

Advertisements

Komentar