Advertisements

Review Power Rangers 2017: Nostalgia Yang Terbayar Lunas

Sebelum menonton film yang saya pikir bakal block buster alias hits banget, selalu menyempatkan diri untuk browsing review dari mereka yang sudah nonton. Hasil review itu yang biasanya menambah hasrat saya untuk menonton, terlepas bagus atau tidaknya hasil review itu. Seandainya bagus, tambah semangat. Seandainya jelek pun, ingin membuktikan apakah seburuk itu? Ketika saya membaca review Power Rangers 2017 di Kaskus, semuanya mengatakan ini film buruk. CGI kasar, humor-humor yang picisan (receh), alur cerita dangkal, dll. Meskipun saya baru 3 review yang masuk. Semangat untuk nonton semakin tinggi karena hype yang saya terima dengan hasil review bertolak belakang. Apakah benar seburuk yang mereka katakan?

Hasil gambar untuk power rangers 2017 poster
Poster Power Rangers 2017

Dencin (Denpasar Cineplex) adalah pilihan pertama bagi saya untuk menonton. Tiket murah dan dekat dari rumah adalah alasan utama. Saya pilih pukul 18.25 Wita, sendirian berhubung pacar masih di kantor dan sedang tidak enak badan. Ketika itu studio penuh dengan penonton, bahkan hingga seat paling depan. Demografi penonton adalah keluarga dan anak muda. Meskipun sudah jelas film ini berlabel untuk 13 tahun ke atas, keluarga yang datang banyak yang membawa bocah di bawah 13 tahun. Alhasil studio jadi ramai dengan suara anak-anak. Tidak lupa, di tengah film terlihat ada beberapa penonton yang merekam dengan hp dan masuk ke IG Stories.

Saya tidak memasang ekspektasi tinggi untuk film ini. Trailernya terlihat menjanjikan, tapi saya  tidak mau kebawa perasaan supaya tidak kena php. Bagus ya puji, jelek ya bilang jelek. Untungnya, dengan ekspektasi yang rendah itu saya sangat menikmati film ini selama 2 jam 4 menit. Tanpa mengantuk, hanya sesekali menguap.

Review ini saya mulai dari yang jelek-jeleknya dulu. Komposisi cerita film ini menurut saya sudah benar, 80% proses menjadi Power Rangers dan 20% kelahi lawan musuh. Proses 5 sekawan menjadi Power Rangers memang serba kebetulan dan banyak bolong-bolong cerita yang bikin lompat sana-sini, tapi ya sudahlah ya toh masih enak untuk ditonton. Akting pemainnya ada yang kadang kaku dan garing, terutama si Zack. Musuhnya, Rita Repulsa, lemah banget. Kurang greget meskipun makeup-nya bikin saya inget sama Sadako. Untuk ukuran bekas Ranger Hijau yang bisa bunuh Zordon dan former power rangers lainnya, ngelawan rookie malah sekali tampar langsung nyahok. Goldar yang dibuat dari cadangan emas (bukan tanah liat loh ya) kota Angel Grove malah lebih sakti dari Rita.

Saya membayangkan kalau cadangan emas di Freeport seandainya disusun sedemikian rupa, bisa jadi sebesar Goldar. CGI Goldar memang terlihat sangat kasar, betul kata review yang saya baca. Yang paling antiklimaks buat saya adalah, Megazord yang jadi centre of attention ketika ngelawan Goldar terbentuk begitu saja. Megazord yang saya tahu adalah gabungan 5 zord milik Power Rangers (Mastodon dengan design yang out of imagination). Namun di film ini, tidak diperlihatkan bagaimana proses bergabungnya kelima zord itu membentuk Megazord. Sim salabim jadi apa prok prok, yaa jadi Megazord, horeee. What the heck. Bentuk Megazord-nya pun tidak memperlihatkan transformasi bentuk lima zord yang menjadi pembentuknya. Saya tidak tahu Zord Tyrannosaurus bertransformasi menjadi apa. Pun Mastodon Mammoth, Sabertooth, atau Triceratops menjadi apa. Hanya Pterodactyl saja yang kentara bertransformasi menjadi sayap. Sim Salabim lalu jadilah Megazord. Kesalahan yang fatal bagi saya penggemar Megazord.

Hasil gambar untuk megazords. review power rangers 2017

Ada nilai plus dari film ini yang berada di luar ekspektasi saya. Alpha 5 yang saya pikir akan garing seperti film serialnya tahun 90an itu plus redesign yang ga banget, ternyata karakter yang fresh dan menyenangkan. Dialog yang tidak kaku, malah cenderung gaul membuat Alpha menjadi adorable. Design-nya yang berbeda jauh dari design 90an ternyata fit dengan latar belakang cerita. Alien. Kemudian ada dua momen ketika semua nostalgia Power Rangers itu tergali. Pertama; ketika zords pertama kali keluar sarang secara bersama-sama beserta Power Rangers di dalamnya. Adegan itu diberi latar lagu ‘Go Go Power Rangers’.

Saya merinding seketika, seperti ada bocah yang sedang berteriak kegirangan di dalam diri saya. Saya pun tanpa sadar ikut bernyanyi ‘Go Go Power Rangers’ ketika itu. Puas. Momen kedua adalah ketika film akan berakhir. Ada cameo aktor-aktor Power Rangers sempat muncul dan menjadi high light sorotan kamera. Ada Tommy (Jason David Frank), Kimberly (Amy Jo Johnson), dan Jason (Austin St. John) memerankan masyarakat jelata Angel Grove yang turut merayakan kemenangan Power Rangers melawan musuh-musuh yang gagal menguasai dunia. Sekali lagi bocah itu menjerit kegirangan. Puas.

Hasil gambar untuk alpha power rangers 2017
Alpha 5 di Power Rangers 2017

Power Rangers 2017 Menjadi Momen Nostalgia

Secara keseluruhan saya sangat puas dengan film Power Rangers 2017 ini. Momen-momen ketika nostalgia tahun 90an yang berhasil diungkit kembali itu yang menjadi kekuatan film ini. Dengan durasi 2 Jam 4 menit, film ini membayar tuntas nostalgia saya atas Mighty Morphin Power Rangers. Kalau pun review yang beredar mengatakan film ini buruk, kembali lagi ke masalah selera masing-masing. Bagi saya jelas: It’s Morphin Time! Go Go Power Rangers.

Hasil gambar untuk mighty morphin power rangers 2017

Advertisements

Komentar