Advertisements

Review : Pendekar Tongkat Emas (The Golden Cane Warrior)

Saya tidak begitu ingat jelas kapan terakhir kali saya menonton film Indonesia yang bertema pendekar dunia persilatan (ya dunia persilatan). Nama Barry Prima dan Advent Bangun akan selalu muncul tatkala ingatan ini mengawang-awang kembali tentang film pendekar silat yang ketika kecil selalu saya tonton. Setelah dunia perfilman Indonesia meredup, kemudian muncul era sinetron yang tidak luput menampilkan kisah-kisah pendekar silat macam Wiro Sableng dan Si Buta Dari Goa Hantu. Tentu saja nama Herning Sukendro atau yang beken dikenal dengan nama Kenken tidak akan pernah bisa kita lupakan berkat perannya sebagai Wiro Sableng itu. Setelah itu film-film laga pendekar sudah tidak terdengar lagi gaungnya.

Ketika saya mendengar Mira Lesmana akan merilis sebuah film laga yang berjudul Pendekar Tongkat Emas , kembali benak saya mengawang-awang akan film-film laga masa lalu yang pernah saya tonton. Saya sangat penasaran dengan bagaimana seniman-seniman ini akan mengemas film Pendekar Tongkat Emas di tengah era film sci-fi dengan efek yang luar biasa canggih, atau film laga kolosal Tiongkok yang sudah banyak kita tonton akhir-akhir ini. Akankah film ini bisa menyamai, setidaknya, film-film laga dari Tiongkok ini? atau malah sebaliknya hanya menjadi pemanis seperti film-film komedi horror tanpa greget itu?. Namun apapun hasilnya, saya tetap bertekad akan menonton film ini karena saya merasa film yang bertema tidak biasa ini memiliki nyali untuk bersaing diantara film-film box office akhir tahun lainnya. Saya pun tidak ingin mengulang keasalahan saya yang menunda menonton Tabula Rasa yang akhirnya keburu hilang dari bioskop.

Setelah 112 menit menonton akting dari Eva Celia (Dara), Reza Rahadian (Biru), Tara Basro (Gerhana), Nicholas Saputra (Elang) dan Christine Hakim (Cempaka), saya merasa sudah saatnya film-film laga seperti Pendekar Tongkat Emas ini untuk kembali bangkit dari kuburnya. Ada banyak nuansa baru yang  dihadirkan oleh film ini seperti tutur kata yang lebih baku dalam dialognya (ah lupakan Supernova, terlalu kaku untuk film saat ini), eksplorasi alam Indonesia Timur, dan tentu saja adegan-adegan silatnya. Nuansa baru ini sungguh membawa citra yang positif bagi perfilman kita yang belakangan selalu dibuat membosankan dengan kehadiran film horror komedi sensual.  Film ini memiliki cerita yang sederhana, tidak banyak plot twist yang ditawarkan sehingga tidak begitu sulit untuk menerka kemana arah cerita akan bergulir. Untuk ukuran pioneer  film laga, saya rasa Pendekar Tongkat Emas layak untuk mendapat apresiasi meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini.

Meskipun merupakan film laga, adegan silat tidak mendapatkan porsi yang banyak dalam film. Pendekar Tongkat Emas masih terfokus pada pembangunan cerita konflik perebutan Tongkat Emas dan eksplorasi alam Sumba yang sungguh sangat menawan. Setting properti yang dibangun terbilang cukup baik untuk ukuran kampung antah berantah dengan penduduk yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan aktor-aktor utama. Saya rasa Ifa Isfansyah sang sutradara jeli memilih pemain latar yang saya yakin banyak diambil dari penduduk lokal. Penampilan mereka tidak begitu berbeda dengan aktor-aktor utama, apalagi Eva Celia yang bisa berbaur diantara pemain latar ini meskipun yang kita tahu dia memiliki darah keturunan yang kentara. Saya juga tidak menyangka bahwa padang savana Sumba ternyata begitu indahnya. Formasi perbukitan yang ditutupi vegetasi padang rumput mengingatkan saya dengan latar film Lord Of The Ring di Selandia Baru (lebay dikit gapapa ya). Indonesia memang kaya akan formasi geografis dan vegetasi yang sangat potensial untuk digunakan sebagai latar sebuah film.

 Padang Savana Sumba

Sumber

Sayangnya film ini dirilis berbarengan dengan Premier The Hobbit : The Battle Of The Five Armies. Penonton tentu saja akan lebih memilih The Hobbit dibandingkan Pendekar Tongkat Emas. Bioskop langganan saya pun memutar The Hobbit pada 2 teater, teater 1 dan 2 sedangkan Pendekar Tongkat Emas pada teater 4, yang artinya film ini kemungkinan tidak akan lama bertahan di bioskop. Seperti menyaksikan David melawan Goliath, tidak seimbang. Saya pun dapat menghitung dengan jari jumlah penonton yang ada di dalam teater bersama saya tadi, meskipun  film ini baru premier kemarin (18/12/2014).

Film ini layak untuk mendapatkan apresiasi lebih karena sudah berhasil mengangkat tema laga persilatan kembali ke layar lebar. Meskipun berada di tengah-tengah film calon Box Office, tapi film ini sangat layak sebagai kuda hitam di akhir pekan dan masuk ke dalam bucket list film wajib tonton kalian. Selamat menonton!.

Advertisements

Komentar