Advertisements

Review : The Hunger Games : Mockingjay Part 1

Setelah terhibur dengan Big Hero 6 dan dibuat berpikir keras karena Interstellar, saya berharap The Hunger Games : Mockingjay Part 1 bisa membuat saya sama terhiburnya. Seri sebelumnya, The Hunger Games : Catching Fire sudah sukses membuat saya duduk tenang selama 146 menit di dalam bioskop dan saya memasang harapan besar di sekuel kedua ini.

image via imdb

Saya berharap pula film ini setidaknya seperti film The Maze Runner yang unsur cerita dan actionnya berjalan seimbang.  Mockingjay Part 1 ini awalnya berjalan sesuai dengan harapan saya, bahwa dimana ada pemerintahan yang otoriter dengan seorang diktator sebagai pemimpinnya maka disana akan ada pemberontak yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk melakukan kudeta. Cerita yang ditawarkan, setelah berjalan hingga di pertengahan durasi, membingungkan buat saya. Membingungkan bukan karena cerita yang dibawakan sangat berat seperti interstellar namun karena apa yang ada di dalam film sangat janggal bagi saya. Ada banyak pertanyaan yang muncul akibat kejanggalan cerita dan kejanggalan-kejanggalan ini terlalu mengganggu buat saya selama film ini berlangsung. Kejanggalan-kejanggalan ini antara lain :

  1. Sebagai distrik yang memberontak, kondisi Distrik 13 tidak nampak seperti camp-camp pemberontak pada umumnya. Jangan bayangkan hubungan District 13 dengan Capitol seperti hubungan Skynet dengan umat manusia dalam Film Terminator Salvation. Pada film Terminator Salvation terlihat bahwa umat manusia adalah pemberontaknya dan Skynet adalah sang otoriter. Hidup dalam tekanan dan ketakutan dengan kondisi base camp yang sangat “gelap” membuat kita merasa bahwa inilah pemberontak yang sesungguhnya. Kondisi yang berbeda seratus delapan puluh derajad dialami oleh penduduk atau pemberontak di Distrik 13. Mereka berseragam, hidup dalam kecukupan yang tidak nampak kurang satu apapun. Mereka seperti berada di dalam sangkar emas, memiliki persenjataan lengkap dengan sistem pengamanan yang cukup canggih. Seperti tandingan yang sepadan dengan Capitol.
  2. Katnis Everdeen ditunjuk sebagai Mockingjay, simbol dari revolusi yang menginginkan kesetaraan antara Capitol dengan distrik yang ada di sekitarnya. Sayangnya posisi Katnis Everdeen ini bisa digantikan dengan siapa saja. Apa kelebihan Katnis sehingga ditunjuk sebagai Mockingjay? karena keberaniankah? kemampuan memanah? ataukah karena dia membenci Capitol lebih dari siapapun? saya masih menganggap faktor-faktor itu dapat digantikan oleh orang lain.
  3. Mengapa Distrik 13 harus mengambil resiko menghancurkan rencana revolusi dengan berusaha menyelamatkan Peeta Mellark? Peeta Mellark sudah tiada artinya baik bagi Capitol maupun Distrik 13. Bagi Capitol, Peeta Mellark adalah penghianat setelah ia membocorkan misi Capitol ketika melakukan konferensi. Setali tiga uang dengan Distrik 13 yang sudah memiliki Katnis Everdeen sebagai simbol revolusinya. Sangat ceroboh bila misi menyelamatkan Peeta Mellark hanya untuk memuaskan ego dari seorang Katnis Everdeen yang diam-diam jatuh cinta padanya. Semoga Mockingjay Part 2 bisa menjelaskan kejanggalan ini.
  4. Mengapa seorang Mockingjay harus memiliki kostum khusus dalam revolusi? Kostum tersebut nyatanya tidak memberikan manfaat ketika Katnis bertempur.
  5. Tujuan dari pemberontakan yang dilakukan oleh Distrik 13 yang saya tangkap selama film ini hanyalah untuk menjadi “sekutu yang diperhitungkan” oleh Capitol. Tujuan ini sangat lemah untuk dapat diangkat menjadi latar belakang cerita sebuah film. Maksudnya, serius hanya jadi sekutu yang diperhitungkan saja? kenapa tidak menggulingkan pemerintahan yang ada karena sudah kelewat otoriter seperti dalam cerita V for Vendetta, atau karena sangat berbahaya bagi umat manusia seperti dalam film Terminator. Kalau hanya sekedar sekutu, kenapa tidak menggunakan pendekatan politik untuk menciptakan posisi tawar yang lebih baik ?. Lagipula, bukankah menjadi sekutu adalah hubungan yang mustahil? mengingat yang mereka (distrik 13) hadapi adalah pemerintahan yang absolut.
  6. Oke yang terakhir, meskipun sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ada di kepala, so what’s the plan? apakah saya kelewatan cerita sehingga saya tidak tahu sama sekali apa rencana Distrik 13 yang dikepalai oleh Alma Coin untuk merevolusi Capitol. Saya tidak mengerti mengapa tidak ada tindakan fisik seperti perang atau sabotase yang mengarah pada kudeta Presiden Snow?. Okelah menghancurkan sebuah Bendungan akan membuat Capitol lumpuh, namun setelah itu tidak ada tindakan apapun dari Distrik 13 untuk memberikan ancaman bagi Capitol.  Alih-alih menyerang, Distrik 13 malah melakukan misi konyol dengan menyelamatkan Peeta Mellark. Saya sempat membaca bahwa upaya kudeta ini akan diceritakan pada sekuel berikutnya The Hunger Games : Mockingjay Part 2, namun dalam Mockingjay Part 1 tidak ada rencana apapun yang bisa saya tangkap, sehingga cerita film ini keseluruhan menjadi pointless.

Film The Hunger Games Mockingjay Part 1 saya padankan dengan Transformers : Age Of Extinction karena ekspektasi yang saya harapkan sangat jauh dengan apa yang saya tonton. Bahkan untuk sebagai hiburan pun saya lebih menyarankan menonton Big Hero 6 bersama keluarga atau bila ingin menonton film yang lebih greget dengan cerita yang sangat gila maka Nightcrawler adalah saran saya. Saya memang tidak membaca novel  karya Suzanne Collins ini sehingga saya tidak tahu seberapa bias antara film dengan novelnya namun dari apa yang saya tonton membuat saya berpikir, isi dari novelnya sendiri seperti apa?. The Hunger Games : Mockingjay Part 1 bukanlah film yang terlalu buruk sehingga harus anda lewatkan di akhir pekan ini. Semua itu kembali pada selera pribadi masing-masing dalam menilai film ini, baik dari trailernya maupun dari novelnya.

Advertisements

Komentar