Advertisements

POPULARITAS MEMBAWA BENCANA

 

Sumber : rudypraja.com

Adalah sebuah artikel tentang Gunung Padang yang sudah membawa ingatan dan keprihatinan saya terhadap arti sebuah popularitas. Situs Gunung Padang sedang naik daun dalam 1-2 tahun terakhir. Publikasi besar-besaran terhadap sejarah situs Gunung Padang mengundang banyak perhatian, alhasil Situs Gunung Padang mulai ramai dikunjungi wisatawan dan peneliti. Namun ramainya kunjungan ini bukan memberikan efek positif namun justru sebaliknya. Wisatawan  banyak yang tidak memahami  bahwa benda-benda arkeologi yang ada di Situs Gunung Padang sifatnya sangat rapuh dan dilindungi. Alih-alih menikmati, tindakan mereka malah cenderung merusak benda-benda arkeologi di Situs Gunung Padang. Tindakan seperti memukul-mukul dan mengangkat batu justru sangat dikhawatirkan dapat merusak fisik batu tersebut.

Peristiwa di atas mengingatkan saya dengan apa yang pernah saya alami di Kawasan Pulau Merah, Banyuwangi. Saat itu saya tengah survei untuk kepentingan penyusunan RTRW Kabupaten Banyuwangi 2009-2029. Kawasan Pulau Merah merupakan salah satu aset strategis bagi Kabupaten Banyuwangi karena potensi wisata alam serta potensi tambang emas yang dimilikinya. Saat itu Kawasan Pulau Merah sebagai kawasan wisata belum sepopuler sekarang, bahkan tidak ada wisatawan lokal yang berkunjung ketika saya dan tim tiba di sana. Kawasan Pulau Merah memiliki potensi alam yang kalau bisa saya bandingkan bahkan lebih bagus dari Pantai Kuta, Bali. Pantai dengan pasir putih yang bersih serta deburan ombak dengan latar belakang sebuah formasi geografis berbentuk bukit kecil yang diberi nama Pulau Merah adalah komoditas andalan kawasan wisata ini

Gambar : Kawasan Pulau Merah

Sumber : traveldetik 

Ketika survei, saya dan tim berjalan terpisah dalam menikmati keindahan yang ada di hadapan kami. Pandangan saya saat itu tertuju pada Pulau Merah yang terpisah beberapa ratus meter dari daratan Kabupaten Banyuwangi. Untuk mencapai Pulau Merah tidak mebutuhkan alat transportasi khusus cukup berjalan kaki saja karena perairan yang memisahkan Pulau Merah dengan pantai sangat dangkal.  Saya bertemu dengan beberapa wisatawan asing setibanya di Pulau Merah. Entah saya lupa mereka (lebih dari satu orang, laki dan perempuan) berasal dari mana, namun saya dan salah satu diantara mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan. Ia awalnya bertanya saya berasal dari mana dan sedang apa di Pulau Merah, pertanyaan yang cukup janggal karena sayalah yang seharusnya bertanya seperti itu padanya. Saya jelaskan sesederhana mungkin alasan saya ada di sana. Ketika saya mengatakan bahwa Pulau Merah ini menjadi salah satu daya tarik wisata bagi Kabupaten Banyuwangi, dengan sigap ia memberikan saran untuk tidak memasukkan Pulau Merah ke dalam Peta RTRW Kabupaten Banyuwangi. Alasannya sederhana, bila tempat itu menjadi populer justru akan membahayakan lingkungan alam Pulau Merah itu sendiri. Berkaca pada pembangunan wisata alam di tempat lainnya, ia khawatir bila nantinya Pulau Merah populer dan berkembang, pembangunan yang terjadi justru akan merusak potensi alam yang ada di sana.

Kekhawatiran wisatawan asing di atas, bila melihat pada kondisi Pulau Merah saat ini bisa jadi tidak berlebihan. Kawasan Pulau Merah sekarang sudah mengalami perubahan dengan tumbuhnya akomodasi wisata di sepanjang pantai. Pembangunan kawasan wisata yang tidak terkendali, seperti yang banyak terjadi di wilayah lain di Indonesia, justru akan menurunkan potensi wisata yang ada di Pulau Merah. Hal serupa tengah terjadi di Situs Gunung Padang. Karena kepopulerannya situs ini malah terancam kondisi benda-benda arkeologinya akibat tindakan vandalisme yang dilakukan oleh pengunjung. Bahkan di tahun 2012 pernah muncul aksi penolakan terhadap penelitian situs Gunung Padang .

Tulisan saya di atas bisa jadi menambah populer Kawasan Pulau Merah dan Gunung Padang, namun disini saya menekankan bahwa kita sebagai wisatawan juga memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian kawasan wisata yang ada di negeri kita. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan menikmati kawasan wisata tersebut tanpa melakukan tindakan-tindakan vandalisme yang dapat menurunkan citra kawasan wisata tersebut. Masih ingat dengan peristiwa vandalisme yang dilakukan oleh oknum wisatawan asal Indonesia di Gunung Fuji?,  sungguh tindakan tersebut jangan sampai kita ulangi di Indonesia. Bila anda adalah penyuka sebuah keindahan, tidak sepatutnya meninggalkan rekam jejak yang justru mengaburkan nilai keindahan tersebut.

 

Advertisements

Komentar