Advertisements

MIMPI

Saya masih merasa anak-anak sekarang masih tidak bebas untuk bermimpi  jadi apa kelak. Saya masih merasa bahwa untuk menjadi sukses harus menjadi profesi tertentu dan itu tidak mudah karena butuh uang yang tidak sedikit atau koneksi. Koreksi kalau stereotype saya salah.

Saya masih ingat masa kanak-kanak saya habiskan untuk membuat miniatur jalan-jalan kota dari gundukan pasir, tanaman-tanaman liar saya jadikan pohon, batu bata saya jadikan gedung, pecahan-pecahan keramik saya susun jadi rumah-rumahan lengkap dengan garasi dan mobil di dalamnya. Tapi saat itu saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi perencana kota, tahu bahwa profesi itu ada pun tidak hingga saya memasuki tahun akhir SMA. Entah kebetulan atau tidak, saya memilih untuk menggeluti bidang Perencanaan Wilayah dan Kota saat ini sebagai pekerjaan.

Dulu ketika masih SD, guru kelas saya sempat melempar pertanyaan kira-kira seperti ini “cita-cita kalian kalau sudah besar mau jadi apa?”. Saya saat itu sangat bingung untuk menjawab, karena saya benar-benar tidak tahu mau jadi apa kelak. Teman-teman saya memberikan jawaban yang beragam, ada yang mau jadi dokter, ada yang mau jadi dosen, polisi, insinyur dan lain-lain. Kebanyakan mereka hanya meniru profesi orang tua atau kerabat mereka yang mereka anggap keren dan menjanjikan saat itu. Sedangkan saya? keluarga saya tidak ada yang jadi dokter, dosen, atau polisi, dan saya pun merasa tidak punya pilihan untuk jadi apa karena ayah saya hanya pegawai swasta biasa dan ibu saya ibu rumah tangga, tidak keren (bagi saya saat itu).

Cita-cita yang tergambar dalam benak saya saat itu adalah profesi apa yang bisa kamu tekuni untuk menjadi sukses secara finansial. Saat itu pilihan yang tersedia hanya jadi dokter, dosen, polisi dan insinyur yang mana dalam hati saya tidak tertarik untuk menjadi salah satu dari mereka (meski saat ini gelar saya sarjana teknik dan ya saya menyukai menjadi seorang planner). Bahkan profesi menjadi guru pun tidak menjadi pilihan untuk menjadi suskes saat itu.

SItus Gunung Padang
SItus Gunung Padang. via en.wikipedia.org

Saya baru saja membaca tulisan tentang Situs Gunung Padang yang beberapa tahun belakangan ini sedang naik daun kisahnya. Tulisan mengenai Situs Gunung Padang itu pernah saya tonton videonya (bisa kalian cari sendiri di youtube) dan memang benar adanya. Berkat tulisan dan video tersebut, profesi arkeolog menjadi sangat keren di mata saya. Bayangkan bila fakta-fakta Situs Gunung Padang ini bisa dipublikasikan secara luas dan diterima oleh publik internasional, mungkin sejarah negara ini bisa bergeser. Sejarah peradaban manusia bisa jadi berubah dan Indonesia tiba-tiba menjadi pusat penelitian sejarah internasional. Semua itu berkat kegigihan arkeolog kita yang dengan sukarela meneliti Situs Gunung Padang.

Profesi arkeolog bukan profesi yang familiar di kalangan masyarakat awam Indonesia. Kalaupun masyarakat kita paham dengan arkeolog. yang terpintas pertama kali di pikiran saya adalah pertanyaan “bagaimana caranya kamu bisa dapat nafkah dari batu?” yang meluncur dari kepala mereka. Arkeolog yang bekerja meneliti Situs Gunung Padang pun rela mengeluarkan dana pribadi demi kelancaran penelitian. Negara kita masih sangat terbatas perannya dalam penelitian yang sangat-sangat strategis ini. Kondisi ini, menurut saya, makin memojokkan profesi arkeolog bukan sebagai profesi yang tepat untuk menjadi sumber nafkah. Ah saya pun tidak ingin menyalahkan siapa-siapa untuk kondisi ini, bisa jadi itu hanya stereotype saya saja. Bagi saya, profesi arkeolog ini sangat-sangat mulia, sama mulianya dengan dokter, polisi, PNS, guru atau insinyur karena eksistensi sejarah dan peradaban bangsa kita yang luar biasa besar ini salah satunya ada di tangan mereka.

Sekarang saya hanya ingin memastikan keturunan saya kelak bisa bermimpi sebebas-bebasnya untuk jadi apa dan memberikan jalan yang lebar dengan pemahaman yang tepat untuk masing-masing mimpi itu. Entah mereka mau menjadi arkeolog, planner, dokter, seniman, peneliti atau apapun, mereka akan tetap saya dukung selama itu berasal dari hati, bukan paksaan lingkungan. Saya jadi ingat dengan video wawancara Noah Ritter si Apparently Kid. Ia baru berusia 5 tahun, namun sudah bermimpi untuk menjadi palaentologis karena ia sangat menyukai dinosaurus. Saya sangat ingin, anak saya kelak ketika usia 5 tahun ia sudah mempunyai mimpi untuk menjadi apa, persis seperti Noah Ritter.

Advertisements

Komentar