Advertisements
8 dusta revitalisasi Teluk Benoa. pic via

Mengembalikan Makna Revitalisasi

8 dusta revitalisasi Teluk Benoa. pic via
8 dusta revitalisasi Teluk Benoa. pic via fanabis.org

Belakangan ini kita, khususnya masyarakat yang tinggal di Pulau Bali, sering mendengar istilah revitalisasi. Kata revitalisasi sedang naik daun bukan karena menjadi judul lagu dangdut atau meme parodi politik, namun menjadi kata “pamungkas” bagi pihak yang pro terhadap reklamasi Teluk Benoa.  Pihak yang pro reklamasi mengklaim bahwa revitalisasi Teluk Benoa ini memiliki efek positif bagi Provinsi Bali seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, atau gambar berikut .

Pada intinya pelaksanaan revitalisasi  Teluk Benoa diklaim mampu menyelamatkan Teluk Benoa dari kerusakan, menciptakan lapangan pekerjaan baru, melestarikan budaya dan sebagainya. Bila kita baca lagi tentu tujuan ini sangat mulia ; menyelamatkan lingkungan, menciptakan lapangan pekerjaan, melindungi budaya Bali, dari segi manapun  akan terdengar elok di telinga. Namun sejatinya konteks revitalisasi tidaklah sesuai dengan kondisi dan fungsi Teluk Benoa saat ini.

Pelaksanaan revitalisasi sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan.  Berdasarkan peraturan ini yang dimaksud dengan revitalisasi  adalah

Upaya untuk meningkatkan nilai lahan/kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya

Bila hanya berkaca pada makna revitalisasi di atas tentu tidak ada yang salah dengan Revitalisasi Teluk Benoa, namun pelaksanaan revitalisasi tidak sampai disitu saja. Revitalisasi tidak dapat dilakukan pada sembarang kawasan. Kawasan-kawasan yang dapat direvitalisasi adalah kawasan yang tidak teratur, kawasan yang produktivitas ekonominya menurun, kawasan yang terdegradasi lingkungannya akibat layanan prasarana sarana tidak memadai, kawasan warisan budaya perkotaan (urban heritage) yang  rusak, dan kawasan yang nilai lokasinya menurun. Dilihat dari tipenya, kawasan-kawasan tersebut dapat berupa kota warisan budaya (heritage town), kota lama (old town), kawasan strategis berpotensi ekonomi, permukiman kumuh, dan atau kawasan/permukiman yang vitalitasnya
tidak berkembang (stagnant). Apakah dari tipologi kawasan tadi, Kawasan Teluk Benoa masuk ke salah satu di dalamnya? tentu tidak.

Tujuan dari revitalisasi adalah meningkatkan vitalitas kawasan terbangun melalui intervensi perkotaan yang mampu menciptakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, terintegrasi dengan sistem kota, layak huni, berkeadilan sosial, berwawasan budaya dan lingkungan. Teluk Benoa adalah sebuah ekosistem  non terbangun, bukan kawasan pertumbuhan ekonomi yang pernah berjaya dan kini mati, bukan kawasan permukiman apalagi kawasan cagar budaya yang rusak dimakan jaman. Teluk Benoa ada sebuah ekosistem alami yang berfungsi menjaga tata air di Kawasan Bali Selatan, habitat berbagai macam biota laut, habitat Mangrove dan lokasi mencari nafkah nelayan-nelayan sekitar.  Bila ingin mengembalikan fungsi vital Teluk Benoa, apakah masih bijak melalui reklamasi?.

Berpedoman pada Permen PU No 18 Tahun 2010, penggunaan kata revitalisasi untuk pembenaran melakukan reklamasi Teluk Benoa tentu saja tidak tepat. Penggunaan kata revitalisasi tidak dapat sembarangan disematkan untuk pelaksanaan kegiatan tertentu dan sangat keliru bahkan cenderung sesat pikir bila revitalisasi adalah jalan keluar untuk mengembalikan vitalitas Teluk Benoa. Kita sebagai generasi yang melek informasi harus pandai-pandai dalam memahami maksud dari istilah revitalisasi ataupun reklamasi yang saat ini tengah diperdebatkan di Bali, jangan sampai kita menentang atau memperjuangkan sebuah istilah yang tidak benar-benar kita pahami.

Tolak Reklamasi dan sesat pikir  Revitalisasi Teluk Benoa !

Advertisements

Komentar