Advertisements
hujan, bukan hujan es sih

Indonesia Juga Rentan Terjadi Hujan Es

Hujan merupakan istilah yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia. Selama periode musim hujan, sejumlah daerah di Indonesia menjadi sangat basah akibat guyuran hujan yang dapat terjadi hampir sepanjang hari. Hujan yang selama ini dikenal secara umum oleh masyarakat adalah hujan yang berupa tetesan air. Namun bagaimana jika dalam tetesan air itu diikuti oleh sejumlah butiran es? Kondisi inilah yang kemudian disebut sebagai hujan es. Lantas apa yang Anda bayangkan ketika mendengar adanya kejadian hujan es? Mungkin sesaat kita terlintas salah satu adegan dalam film The Day After Tomorrow. Di mana es seukuran bola golf jatuh ke tanah merusak mobil, rumah hingga membuat orang yang terkenanya mengalami luka-luka. Hujan es memang merupakan fenomena cuaca yang sering terjadi di daerah lintang tinggi. Namun fenomena ini juga dapat terjadi di daerah lintang rendah seperti Indonesia.

Fenomena hujan es atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai hail sebenarnya bukan fenomena langka di Indonesia. Seperti kejadian hujan es yang baru saja terjadi di Surabaya. Adanya butiran es dalam air hujan tidak hanya ditemukan di daerah Waru, namun juga di Jemursari. Kejadian hujan es ini sempat membuat masyarakat menjadi heboh dan beritanya pun viral di media sosial. Adanya hujan es dapat mengakibatkan kerusakan pada rumah warga, tanaman pertanian, dan properti outdoor. Lalu, apa sesungguhnya penyebab terjadinya hujan es?

Merujuk pada kamus Meteorologi bahwa hujan es merupakan hujan dalam bentuk butir-butir es yang terpisah-pisah maupun bergabung menjadi satu dengan diameter butir es berkisar antara 5 – 50 milimeter ataupun lebih. Hujan es biasanya berasal dari awan Cumulonimbus. Awan yang berbentuk seperti bunga kol, bergumpal-gumpal dan tumbuh menjulang tinggi hingga dapat mencapai ketinggian lebih dari 10 km. Awan Cumulonimbus memang dikenal sebagai awan penyebab terjadinya cuaca buruk hingga ekstrem.

Bagian puncak awan Cumulonimbus biasanya mengandung butir es. Pada saat jatuh ke permukaan tanah, sebagian es ini ada yang tidak sempat mencair sehingga saat jatuh ke tanah masih dalam wujud es. Inilah yang kemudian disebut sebagai hujan es. Dalam awan Cumulonimbus terdapat arus kuat ke atas (updraft) dan arus kuat ke bawah (downdraft). Tetesan air dapat terbawa naik hingga lapisan atas oleh arus updra hingga melewati freezing level yaitu ketinggian dimana suhu udara adalah 0℃ dan tetes air mulai membeku. Tetesan air yang melewati freezing level akan mulai membeku menjadi butir es. Adanya arus downdraft membawa tetesan air setengah beku tersebut kembali ke bawah freezing level sehingga tetes air tersebut kembali mencair. Namun, adanya arus updraft yang kuat kembali membawa tetes air tadi hingga menuju lapisan udara yang lebih tinggi melampaui batas freezing level. Akibatnya tetes air setengah beku tadi kembali mengalami proses pembekuan.

Proses turun dan naiknya tetes air oleh arus updraft dan downdraft tersebut terjadi berulang-ulang hingga tetes air tersebut mengalami perubahan wujud menjadi es sepenuhnya. Butir es memiliki kecepatan jatuh yang lebih besar dibandingkan dengan tetes air karena ukurannya yang lebih besar dan lebih berat. Ketika keluar dari dasar awan Cumulonimbus, butir-butir es tersebut tidak sempat mencair sepenuhnya sehingga mencapai permukaan tanah dalam keadaan masih berwujud butir es, dengan ukuran yang lebih kecil.

Hujan es dapat terjadi di daerah tropis apabila ketinggian lapisan beku (freezing level) terbentuk tidak jauh dari permukaan tanah yaitu dengan ketinggian sekitar 4 km atau kurang. Hal ini karena suhu lingkungan di daerah tropis yang tinggi sehingga dalam perjalanannya ukuran butir es tersebut cukup banyak menyusut. Dengan semakin rendahnya ketinggian lapisan beku (freezing level) maka peluang untuk mengalami penyusutan ukuran dalam perjalannya semakin kecil sehingga butir es masih dapat mempertahankan wujudnya saat mencapai permukaan tanah. Kondisi ini juga yang menyebabkan ukuran butir es dari hujan es yang terjadi di daerah tropis memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan butir es dari hujan es yang terjadi di daerah sub tropis.

Waspadai Pertanda Akan Terjadinya Hujan Es

Untuk terjadinya hujan es memerlukan ketersediaan uap air di atmosfer dalam jumlah banyak dan kondisi atmosfer yang labil sehingga meningkatkan peluang terjadinya pertumbuhan awan Cumulonimbus yang tinggi. Liputan awan Cb dapat mencapai beberapa kilometer. Artinya awan Cumulonimbus mengandung sejumlah besar uap air. Itulah sebabnya awan jenis ini dapat menyebabkan terjadinya hujan deras. Angin kencang yang sering dirasakan saat adanya awan Cumulonimbus merupakan arus downdraft yang bertiup keluar dari dasar awan Cumulonimbus itu sendiri. Untuk dapat menghasilkan hujan es, awan Cumulonimbus yang terbentuk haruslah awan Cumulonimbus yang kuat. Oleh karena itu, kejadian hujan es selalu bersamaan dengan hujan lebat dan angin kencang.

Berdasarkan dampaknya yang cukup berbahaya bagi keselamatan, fenomena hujan es termasuk dalam kategori cuaca ekstrem. Fenomena ini umumnya sering terjadi dalam musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun sebaliknya. Kita perlu waspada terhadap tanda-tanda akan terjadinya hujan es. Kondisi sebelum terjadinya hujan es biasanya diawali dengan kondisi udara yang panas dan gerah kemudian terbentuk awan-awan Cumulonimbus yang sangat tinggi hingga berwarna kehitaman.

Semua fenomena cuaca yang terjadi di alam perlu kita kenali lebih lanjut tanda-tandanya sehingga dampak dari fenomena cuaca tersebut dapat diminimalisir. Mari bersahabat dengan cuaca.

~~~

Tulisan oleh Kadek Setiya Wati
dari METEODROME Volume 1 Nomor 3 Maret 2017
diterbitkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas 1 Ngurah Rai – Denpasar.

Advertisements

Komentar