Advertisements

DENFEST 2016 Yang Bisa Ditebak

Denfest 2016 atau singkatan dari Denpasar Festival adalah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar guna menyambut perayaan tutup tahun dan menyambut tahun baru. Komoditas yang ditawarkan untuk dapat dinikmati dalam Denfest cukup beragam. Mulai dari makanan dan minuman (tentu saja), pakaian, hingga ragam kesenian mulai dari tradisional, modern, maupun kontemporer. Ragam komoditas ini tentunya memberikan banyak pilihan untuk dinikmati oleh pengunjung Denfest. Denfest tahun 2016 diselenggarakan selama 4 hari yaitu mulai tanggal 28 Desember hingga tanggal 31 Desember. Denpasar Festival sendiri sudah diselenggarakan sebanyak 9 kali. Pada Denfest tahun 2016 ini bertajuk Padmaksara.

Hasil gambar untuk denfest 2016
sumber gambar: http://www.detoraa.com/2016/11/denpasar-festival-tahun-2016.html

Pada kesempatan ini saya akan mereview sedikit tentang jalannya Denfest Tahun 2016 yang baru saja kita, masyarakat Kota Denpasar, lewatkan dan nikmati (saya yakin karena tidak semua masyarakat Kota Denpasar datang ke Denfest). Saya sendiri tidak datang selama 4 hari berturut-turut, hanya di hari terakhir saja pada tanggal 31 Desember. Lalu apa yang mau direview? Bagaimana proses reviewnya? Hal yang akan saya review disini adalah gap expectation antara planning dan reality, antara apa yang direncanakan oleh Pemerintah Kota dengan kenyataannya di lapangan. Bagaimana caranya? Dengan membandingkan rencana penyelenggaraan Denfest 2016 yang saya peroleh dari website Pemerintah Kota Denpasar dengan apa yang saya lihat ketika saya mengunjungi Denfest.

Oke, untuk memulai review ini saya akan menggunakan patokan berita ini. Berikut adalah paragraf yang saya pahami sebagai rencana pelaksanaan Denfest 2016 :

Seperti dijelaskan sebelumnya, Denpasar Festival 2016 akan menggunakan sistem Zonasi. Kawasan Jl. Veteran akan dipusatkan bertemakan “Heritage”. Di sana akan ditampilkan pagelaran kesenian klasik, kuliner- kuliner tradisional, Pameran Fotografi Denpasar Kota Pusaka dan juga pameran mobil dan motor tua. 

Sementara, kawasan Jl. Gajah Mada akan menjadi Zona Youth yang menampilkan panggung anak muda, distro serta stand kuliner yang berkaitan dengan citarasa anak muda Kota Denpasar masa kini, dan juga penampilan dari anak- anak muda kreatif Kota Denpasar yang menampilkan perpaduan music, disc jockey, dan video mapping. 

Denfest Tahun ini juga menghadirkan zona anak dan keluarga, di mana di zona ini akan ditampilkan berbagai workshop permainan tradisional, workshop layang- layang, melukis kaos, perpustakaan mini serta panggung pertunjukan anak- anak.

Penggalan berita di atas telah menjelaskan secara garis besar bahwa Denfest 2016 akan diselenggarakan dengan konsep zoning, dimana  masing-masing zonasi memiliki tema yang berbeda. Saya mulai dari Zona Youth di Jl. Gajah Mada tepatnya sebelah utara simpang Jalan Arjuna – Jalan Sumatera.

Zona Youth adalah, menurut penggalan berita di atas, zonanya anak muda dimana semua komoditas yang dipajang, dipertunjukkan, dan dijual merupakan yang sedang trend di kalangan anak muda Kota Denpasar.  Kenyataannya adalah : stand distro dan stand kuliner dominating all over the road. Maaf ya bila ada stand di luar itu yang nyempil diantaranya, kalian saya persona non grata-kan. Eksistensi kalian tertutupi oleh distro dan kuliner. Sepanjang jalan, saya lebih merasa zona ini adalah zona keluarga.

Meskipun ada distro sebagai representasi anak muda, tetap saja saya tidak melihat ciri anak muda yang kuat di zona ini. Lebih banyak keluarga yang menikmati panganan di stand kuliner dibandingkan di stand distro. Tapi ada hal baru yang saya temui disini yaitu ornament payung-payung cantik yang dipajang dengan digantung pada tali yang dibentangkan melintang sepanjang jalan Gajah Mada. Selain dari itu tidak ada hal baru yang temukan. Jadi saya skip saja dan tetap jalan dengan gandengan saya tanpa berhenti untuk sekadar melihat lihat.

Saya lanjutkan wisata malam kala itu menuju ke Alun Alun Kota Denpasar (Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung), yang zonanya sendiri saya tidak tahu (maaf) apa. Saya lebih suka menyebutnya alun-alun, karena sebutan itu yang saya tahu untuk lapangan puputan sedari saya kecil. Alun alun ini jadi tempat penukaran uang RI yang baru, yang konon ada lambang perkakasnya itu. Ketika saya sampai, tidak ada keriuhan orang orang untuk menukar uang, atau kebingungan akan dimana logo perkakas itu tercetak pada uang yang baru. Terang saja karena sudah malam dan stok uang baru yang ditukarkan tentu sudah habis. Ada panggung untuk pertunjukkan musik di sisi selatan Alun-Alun dan stand-stand pedagang pakaian serta perhiasan di sisi timur lapangan.

Pada kawasan alun alun ini tidak banyak yang menarik perhatian saya kecuali satu stand di depan Pura Jagadnatha, yaitu stand pijat tuna netra. Anda bisa bayangkan, diantara stand makanan, pakaian, dan perhiasan tiba-tiba berdiri stand pijit tuna netra? Mungkin karena pijat tuna netra tidak masuk ke dalam klasifikasi manapun pada zonasi Denfest alhasil diletakkanlah ia di tempat yang sedikit agak jauh dari keramaian. Tapi hey, anggap saja ini bentuk preventif panitia seandainya ada pengunjung yang tiba tiba merasa otot di tubuhnya kaku ketika berkunjung ke Denfest dan butuh dilemaskan.

Sebenarnya, 2/3 perjalanan saya untuk melihat apa itu Denfest sudah saya lalui setelah dari Alun Alun. Saya belum terkesan sama sekali. Saya kemudian beranjak ke Zona Heritage di Jalan Veteran, yang kemudian saya sadari ternyata tidak terlalu berkesan heritage. Kenapa zona ini diberi nama zona heritage? entahlah, mungkin karena ada pameran mobil mobil tua disini. Beberapa mobil bahkan memang secara harfiah tua yang terlihat dari designnya serta catnya yang belang belang, tidak sempurna. Berfoto di depannya? Tidak membuat minat saya muncul sih.

Ada stand yang menarik perhatian saya, Stand Bagian Humas dan Protokol Kota Denpasar, meski di dalamnya ada pameran foto. Di depan Stand ini ada semacam video mapping sosok walikota Denpasar yang tengah menjelaskan program-program pemerintahannya. Maaf pak saya tidak banyak mendengar apa yang bapak sampaikan malam itu. Lalu apalagi yang bisa dilihat pada Zona Heritage? Ada stand kuliner (lagi) yang menurut berita di atas adalah kuliner tradisional termasuk sate alu (biawak), serta stand Bali Drone Community yaitu komunitas penggemar Drone di Bali. Melihat drone terbang membuat saya sedikit terhibur.

Ada satu bagian di Denfest yang sata tidak tahu masuk ke dalam zona mana, yaitu di Kawasan Patung Catur Muka. Sebagai centre of attention, sekitar Patung Catur Muka ini adalah lokasi yang paling banyak saya temui masyarakat yang selfie. Gayung bersambut, Pemkot Denpasar pun seperti memfasilitasi kegemaran masyarakatnya ini dengan membangun semacam display untuk selfie berupa tulisan besar “Lama Kini Denpasar Heritage” di sebelah timur laut Patung Catur Muka. Saya bukan bagian dari masyarakat yang menyempatkan diri dengan gegap gempita untuk ber-selfie ria di depan besar itu.

Perjalanan Denfest saya berakhir hanya dalam waktu sekitar 1 jam. Seharusnya bisa lebih lama lagi seandainya muncul minat saya untuk mengunjungi stand-stand yang ada satu persatu. Mengingat apa yang tersaji malam itu tidak membuat saya begitu terkesan, jadilah hanya sekadar melintas saja.

Denfest tahun 2016 tidak berubah semenjak saya mengunjunginya pertama kali tahun 2010. Entah mungkin inovasi yang disebut-sebut oleh Pemkot sudah dipertunjukkan pada acara pembukaan dan penutup  yang tidak sempat saya saksikan. Di luar itu, apa yang ditawarkan denfest 2016 hanya pengulangan dari tahun sebelumnya, tidak ada yang membuat saya terkejut atau setidaknya bergairah. Stand kuliner bisa ditemui hampir di seluruh jalan, menguasai separuh zona. Memang mungkin karena kuliner adalah komoditas yang paling dicari dan banyak peminatnya dibandingkan komoditas lainnya. Seandainya tidak ada stand kuliner, bisa jadi Denfest sangat sepi. Zonasi yang dilakukan pada Denfest 2016 ini tidak banyak memberikan perubahan dari tahun tahun sebelumnya, bahkan terkesan sama saja ketika kita bisa menemui stand kuliner di semua zona. Seandainya tidak ada stand kuliner ini, bisa jadi zona zona yang ada hanya sekadar dilewati oleh pengunjung.

Ruang yang terbatas di sekitar pusat Kota Denpasar ini tidak mampu menampung banyaknya komoditas yang ingin ditampilkan pada Denfest 2016. Hasilnya sebagian komoditas itu tidak mampu tampil secara optimal. Seperti misalnya Zona Heritage yang tidak terkesan heritage karena yang mendominasi adalah stand kuliner dan stand lainnya yang tidak ada hubungan dengan warisan budaya dan sejarah. Tema heritage yang direpresentasikan oleh pameran mobil tua hanya menjadi figuran saja. Mungkin juga karena tidak ada keterangan yang memadai mengenai kendaraan yang dipamerkan disana sehingga minat pengunjung hanya sebatas selfie. Sejarah pembuatan, sejarah penggunaan, ataupun cerita-cerita unik di balik kendaraan tersebut pun tidak ditampilkan sehingga bargaining position mobil tua ini menjadi rendah.

Pameran mobil tua ini tidak mendapatkan ruang yang optimal untuk ditampilkan. Begitu pula dengan Zona Youth yang menyasar pengunjung pada segmen anak muda ternyata lebih banyak diisi oleh pengunjung segmen keluarga. Pada zona ini, stand kuliner jumlahnya lebih banyak dan jauh lebih ramai dibandingkan dengan stand-stand distro. Seandainya ada stand stand khusus tentang komunitas anak muda Kota Denpasar yang merepresentasikan nilai kreatifitas kaum muda kota. Tentunya Zona Youth bukan hanya menjadi sekadar nama.

Tetap Mensyukuri Denfest 2016

Namun, di luar kekurangan di atas, saya masih bersyukur bisa menikmati Denfest 2016 dengan segala keriaan, kembang api, petasan, dan terompet. Masyarakat Kota Denpasar punya alternatif untuk merayakan tahun baru. Kota pun jadi lebih hidup, dan menyenangkan. Di wilayah lain NKRI, kalian akan dirazia oleh polisi dan satpol PP karena berkumpul, membawa terompet dan kembang api di area publik pada malam tahun baru. Sekali lagi, saya bersyukur masih ada Denfest 2016 diluar segala kekurangannya.

Advertisements

Komentar