Advertisements

Lagu-Lagu Cover / Tribut yang Sepertinya Memang Belum Pernah Kamu Dengarkan

Tribut atau penghormatan tidak akan pernah lepas dari ranah musik. Cara yang utama tentu saja dengan meng-cover lagu milik musisi lain. Situs-situs seperti whosampled, mixcloud, dan soundcloud bahkan menyediakan arena khusus dan memudahkan orang-orang untuk meng-upload dan menyusuri ramainya musik-musik sampling dan/atau cover. Maka pada pewartaan, mudah saja untuk menemukan berbagai artikel yang mengulas ‘lagu-lagu cover terbaik’ atau ‘lagu cover yang lebih baik dari versi aslinya’ dalam berbagai media atau rubrik musik hari ini.

Kamishiraishi Mone
Kamishiraishi Mone, cantik tapi nyanyinya mirip Sabrina 🙁

Ilustrasi untuk lagu-lagu cover yang relatif lebih populer/lebih sering beredar daripada aslinya, misalnya, Johnny Cash meng-cover Hurt milik Nine Inch Nails atau, uhm, Frente yang semata terkenal (pada sebagian kalangan) karena membawakan ulang Bizarre Love Triangle milik New Order. Bahkan bisa jadi ada banyak orang yang getol mendengarkan lagu ‘versi Sabrina’ (eww) atau sejenisnya, melebihi versi artis aslinya, mungkin karena keseringan mendengarkannya di kafe atau kedai kopi.

Ada pula para artis yang meng-cover dengan radikal; benar-benar mengubah nada dan struktur lagunya, seperti yang kerap dilakukan oleh Lauren Mayberry (CHVRCHES). Pada konteks yang sedikit berbeda, banyak beredar di YouTube versi cover yang biasanya dibawakan oleh para artis amatir, semisal membawakan lagu Slayer dengan menggunakan banjo. Cover-cover semacam ini biasanya akan terasa lebih menarik bagi yang telah mengenal terlebih dulu lagu yang mereka bawakan.

Yang paling sering terjadi adalah cover yang seadanya, dengan kata lain, membawakan ulang semata, yang sebagian terdengar okelah, sebagian lagi sama tidak enaknya dengan merokok sehabis gosok gigi. Atau semacam cover lagu dari band dalam satu payung genre (ambil contoh dari sesama band depressive suicide black metal) nyaris tidak menarik, seperti hanya mendengarkan perubahan vokal dan ego.

Ada pula cover bertingkat, sebut saja ‘coverception‘. Pada lagu tradisional dari timur Mediterania, Misirlou, nyaris versi cover-nya oleh Dick Dale sang raja surf rock yang akan di-cover atau diserap oleh musisi-musisi generasi berikutnya (Black Eyed Peas.. dan banyak lagi). Bagaimanapun, cover ini termasuk dalam kategori cover yang membuat kita tertarik meyusuri sejarah dan mendengarkan lagu aslinya.

Mengacu pada pelbagai jenis cover tersebut, terutama yang tidak mengubah chord dan struktur aslinya, atau mengubahnya namun tetap membawa karakteristik lagu aslinya dengan sound dan gaya yang baru, berikut ini adalah beberapa favorit saya. Sebut saja lagu-lagu cover yang paling berkesan dan mudah diingat.

Feist – Black Tongue (Mastodon)

Pada rekaman split yang saling meng-cover lagu satu sama lain, Feist mengubah tembang rock yang sludgy dari album terbaru Mastodon saat itu [2011] menjadi sesuatu yang rapuh dan magis. Saya jadi berharap mereka bertemu lebih awal, sehingga ada kemungkinan Feist menyanyikan tembang-tembang Mastodon yang lebih keras.

Katjie & Piring – Zsa Zsa Zsu (Rock N Roll Mafia)

Lagu dari aksi elektronik asal Jakarta diinterpretasikan sebagai [Sundanese] folk oleh duo asal Bandung. Kelewat manis, menjadikan kita percaya zsa zsa zsu kita akan muncul suatu hari nanti.

Nadja – No Cure for the Lonely (Swans)

Pada album yang dikhususkan untuk meng-cover lagu-lagu dari band yang lebih tua dan populer, Nadja memelarkan tembang merana yang singkat milik Swans menjadi drone-doom panjang memikat. Mematahkan hati siapa saja, yang lonely ataupun tidak.

Sólstafir – Runaway Train (Legend)

Duo electro/goth pop asal Islandia, Legend, membawakan ulang lagu ultra-melankolis milik Sólstafir, Fjara, dengan layak pada rekaman split mereka. Sang kompatriot membalas dengan menerjemahkan tembang patah hati Runaway Train ke dalam metal atmosferik-dramatis nan gemilang.

Exxasens – ¿Por Que Me Llamas A Esta Horas? (Standstill)

One-man space/post-rock asal Spanyol mengangkat lagu milik band senegara—yang baru saya ketahui eksistensinya setelah lagu ini—dengan cukup unik karena berkolaborasi dengan penyanyi aslinya. Tembang rock yang cukup distingtif pun terlahir kembali dalam post-rock antariksa yang menggema.

Ghost – Waiting for the Night (Depeche Mode)

Pada album pertama dari dua album sejauh ini yang berisikan lagu-lagu kover oleh grup psych/heavy metal bertopeng, tafsiran dari salah satu lagu suram Depeche Mode masih menjadi favorit. Tidak begitu spesial, namun terasa mengalir secara alami, terdengar seperti lagu mereka sendiri yang paling kontemplatif.

Kowloon Walled City – July (Low)

Jika dinilai dari bentuknya, memang ada kans yang cukup besar untuk mendaur ulang lagu-lagu slowcore menjadi lebih menarik. Lagu milik legenda ranah ini, Low, dibawakan ulang dengan sludge dosis ringan dengan vokalis wanita yang haunting dan memerihkan.

Karen O with Trent Reznor and Atticus Ross – Immigrant Song

Saya sudah menonton adaptasi yang pertama The Girl with the Dragon Tattoo (2009) ketika menonton versi David Fincher yang berselisih 2 tahun dan seingat saya tidak jauh berbeda kualitasnya. Tetapi versi Fincher dibuka dengan sekuens di mana intro, riff, (semua bagian lagunya, sih) yang monumental dari Led Zeppelin dipindai menjadi dentuman industrial galak dan vokalis wanita yang liar yang kapanpun saya setel masih sanggup menggetarkan testikel.

Ada kemungkinan saya melewatkan beberapa lagu cover lain, yang memang sangat banyak jumlahnya. Namun setidaknya, daftar di atas adalah yang tidak akan terlewatkan ketika menyusun daftar semacam ini. Lagi pula kita tak pernah berekspektasi lagu-lagu jenis ini untuk menjadi besar. Tetapi ia selalu menjadi alternatif yang tepat, atas nama kesegaran, untuk sesekali nyempil di playlist.

Advertisements

Komentar