Advertisements

Review Black Mirror Season 3

Setahun setelah pindah ke Netflix, dua tahun setelah episode spesial, dan tiga tahun setelah season keduanya, Black Mirror kembali ke hadapan penggemarnya. Dengan jumlah episode yang dua kali lipat lebih banyak, bahkan mampu meraup lebih banyak penggemar baru. Seri antologi kisah-kisah satir dan psychological drama yang ditulis oleh Charlie Brooker mengedepankan efek samping atau ketidaknyamanan dari pelbagai kenyamanan yang dihadirkan teknologi hari ini atau masa depan yang tidak begitu jauh. Sci-fi sebagai fondasi sekaligus perekatnya. Aman untuk mengatakan bahwa setiap episodenya sanggup memicu perenungan yang lebih jauh. Jika bukan kekhawatiran yang makin mendalam terhadap penyalahgunaan teknologi.

Saya akan mencoba mengulas secara ringkas apa saja yang ditawarkan oleh tiap episode dalam season ketiga ini. Namun, untuk menyusun ranking rasanya akan kurang mengena mengingat variatifnya pendekatan-pendekatan yang diambil.

Black Mirror Season 3 Episode 1 – Nosedive
Netflix
Episode 1 – Nosedive

Apa yang dipaparkan di sini, yakni me-rating orang lain (dengan skala 1-5 bintang), sebenarnya sudah terjadi. Meski implementasinya belum benar-benar seintens di sini. Nosedive tampil dengan gaya yang ringan dan ‘pop’ namun menyindir keras aspek keramah-tamahan, oportunis, dan pragmatisnya masyarakat perkotaan (sosialita, khususnya) dalam norma-norma sosial media hari ini.

Episode 5 – Men Against Fire
Netflix
Episode 2 – Playtest

Obsesi kita pada augmented reality dan teknologi video game yang ‘real’ makin menjadi-jadi dimainkan dengan baik dalam di sini. Dengan pendekatan serupa film horor, Playtest menarik keluar dan memaparkan permasalahan ‘yang eksis dalam kepala’ dan menabrakkannya dengan realita sesungguhnya secara efektif sekalian menghadirkan kengerian.

Episode 3 – Shut Up and Dance
Netflix
Episode 3 – Shut Up and Dance

Mungkin akan menjadi salah satu episode klasik series ini, di mana aktivitas mengonsumsi pornografi dijadikan bahan permainan dan hukuman a la Jigsaw (dari seri film Saw) yang fasih menggunakan perangkat canggih terkini. Dasar cerita yang gelap, (sangat gelap, malah) ditampilkan dalam cara yang membuat frustrasi dan menegangkan; drama psikologis kelas wahid.

Netflix
Episode 4 – San Junipero

Tak semata romantis dan cerah — untuk takaran Black Mirror — kisah dari salah satu pengunjung ‘kota’ San Junipero juga kaya subteks seperti: dansa antara pasangan sesama jenis yang dilihat dengan aneh oleh orang-orang pada suatu masa, patah hati seorang ayah (tak semua orang mendambakan San Junipero), kegandrungan kita untuk ‘kembali’ ke era lampau, dan pastinya, mimpi untuk afterlife yang ‘nyata’ dan menyenangkan adanya.

Episode 5 – Men Against Fire
Netflix
Episode 5 – Men Against Fire

Bernyawakan film aksi/perang dan thriller, episode ke-5 menawarkan solusi baru yang jenial dan efisien untuk peperangan, terutama dalam hal menyeragamkan pandangan para serdadu. Konteksnya masih dalam turut bermain dengan ‘isi kepala’ orang. Selain mengakomodir masalah individual serdadu seperti ‘pacar bisa diciptakan’, solusi tersebut juga membuat holocaust pada masa depan benar-benar terlihat menyeramkan.

Episode 6 – Hated in the Nation
Netflix
Episode 6 – Hated in the Nation

Meskipun terkesan berformat bak kisah-kisah duet penyidik klasik (si tua yang konvensional dan si muda yang melek teknologi), Hated… mempertontonkan sisi kelam media sosial yang menunggangi people power yang salah kaprah. Niat tokoh antagonisnya (ya, kali ini satu orang, bisa dibilang aktor intelektual sepenuhnya) yang tidak benar-benar tercium, apokalips serangga, dan pertentangan di antara kelas penguasa, menutup season ke-3 dengan paripurna.

~~~

Perenungan yang muncul — lazim disebut sebagai ‘techno-paranoia’ — sehabis menyelesaikan satu season (bahkan per episode) series ini tidak melulu soal apa yang ditampilkan di dalamnya. Tetapi, bagaimana jika ada si jenius-gila yang terinspirasi atau termotivasi untuk mewujudkan atau mengembangkan ide-ide dalam Black Mirror? Mungkin ia sedang sibuk mengerjakannya di dalam bunker bawah tanah, rumah-rumah yang ditinggalkan, atau di mana saja. Setidaknya, kita masih cukup beruntung Charlie Brooker memilih menjual ide-idenya kepada stasiun TV; untuk kita nikmati.

 

Sumber gambar: http://www.forbes.com/sites/insertcoin/2016/10/25/ranking-black-mirror-season-3s-episodes-from-worst-to-best/

Advertisements

Komentar